TRADISI WIWITAN, KENDURI DI SAWAH MENJELANG PANEN

Wiwitan adalah ritual tradisional Jawa sebagai wujud ungkapan rasa terima kasih dan rasa syukur kepada Tuhan YME atas berkat bumi sebagai sedulur sikep dan Dewi Sri (dewi padi) yang telah menumbuhkan padi yang ditanam sebelum panen. Disebut sebagai ‘wiwitan’ karena arti ‘wiwit’ adalah ‘mulai’, jadi memulai memotong padi sebelum panen diselenggarakan.

Yang disebut bumi adalah sedulur sikep bagi orang Jawa karena bumi dianggap sebagai saudara manusia yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya untuk kehidupan. Dalam tradisi Jawa, konsep meminta kepada sedulur sikep tidak ada atau tidak sopan, kepada sedulur sikep kita harus memberi sekaligus menerima, bukan meminta. Jika hormat kita berkurang kepada bumi, atau kita tidak menjaga kelestarian alam, maka bumi akan memberi balasan dengan situasi yang buruk yang disebut pagebluk, ditandai dengan hasil panen yang buruk, kekeringan, cuaca tak menentu, dll.

Sesepuh mendoakan tumpeng wiwitan

Sebuah budi pekerti dan nilai-nilai yang luhur dari akar tradisi Jawa dan saya yakin berbagai tradisi Nusantara mempunyai nilai-nilai Luhur yang sama dalam hal ini, jauh sebelum manusia modern tergopoh-gopoh dengan istilah go-green di abad milennium ini.

Makanan dalam Ritual Wiwitan

Ritual Wiwitan ini sangat ditunggu-tunggu karena ada makanan yang enak-enak. Makanan itu, umumnya Ayam panggang, uraban, botok dan sayur lodeh. Sebenarnya kita bisa saja beli panggang setiap hari, tetapi akan berbeda rasanya jika lauk itu dimakan pada acara tertentu, padahal cuma secuwil. Bagaimana tidak secuwil, panggang satu atau dua ekor dibagi-bagi kepada semua yang hadir berdoa. Keberkahan memang lain, sedikit, tetapi nikmat.

Setelah subuh sesepuh dusun akan keliling sawah dan memetik satu tangkai padi yang telah kuning. Setelah agak matahari muncul (sekitar pukul 06.00) warga yang punya sawah membawa satu baskom besar nasi, panggang dan lauk lainnya ke sawah. 

Petani atau buruh tani yang ada disekitar sawah akan berkumpul untuk berdoa. Nasi dan lauk dibagi kepada yang hadir dalam ritual tersebut juga tetangga dengan cara dibungkus daun pisang.

Wiwitan dari masa ke masa

Perispan tradisi wiwitan

Konon tradisi wiwitan ini sudah ada sejak sebelum agama-agama masuk ke tanah Jawa dan orang Jawa kuno hanya mengenal animisme, tapi itulah tradisi yang dilakukan sebagai usaha menjaga kelestrian keseimbangan alam yang pasti petani Jawa kini semakin jarang melakukan upacara wiwitan karena berbagai alasan.

Wiwitan sebelum era 90-an, Petani membuat takir kecil dari daun pisang sebanyak 5 buah. Dua takir diisi sayap panggang ayam, bunga setaman, telur ayam. Dua takir lagi diisi dua ceker ayam, bunga setaman, telur. Satu takit diisi kepala ayam panggang, telur dan bunga setaman. Takir-takir yang telah didoakan sesepuh dusun akan disimpan di sawah, yang berisi kepala ayam disimpan di tengah sawah yang padinya siap dipetik. Empat takir, masing-masing disimpan di setiap pojok sawah. Namun nantinya akan dimakan oleh pemetik padi.

Pada tahun 1990 keatas, tradisi wiwitan mulai berubah. Pada masa itu pangang ayam tidak disimpan lagi di setiap pojok sawah. Nasi berikut lauk, seperti ayam panggang, sayur klewih, uraban, telur rebus, tahu bumbu kuning disimpan di dalam wadah besar beralas daun pisang. Ritual seperti biasa dipimpin oleh sesepuh desa. Setelah sesepuh desa keliling sawah, dia mengambil satu tangkai padi. Makanan dibagikan memakai daun pisang kepada warga yang hadir.

Dan pada masa tahun 2000 katas, dari tahun ke tahun, warga mulai berkurang melaksanakan tradisi wiwitan ini.

Cara Menghitung Hari Baik untuk Melaksanakan Wiwitan

Semua hari baik, tetapi untuk Ritual Wiwitan ini ada hari yang dianggap paling baik. Cara menghitungnya berdasarkan ilmu turun temurun dari nenek moyang. Mungkin setiap daerah berbeda cara menghitungnya. 

Berdasarkan informasi yang kami terima, hari dalam perhitungan sawah ada lima, sri, kiti, royong, rumpas, roboh. Dari lima nama itu yang bagus adalah sri dan kiti. Royong, rumpas, roboh itu situasi yang buruk terhadap tanaman padi.

Untuk mendapatkan sri dan kiti harus ada gabungan hitungan kalender jawa, seperti,  pahing, pon, wage, kliwon, legi. Di sini sesepuh sudah tahu berapa jumlah hari  tersebut. Dari jumlah itu harus tepat dengan sri atau kiti.

Intinya cara bersyukur dan bersedekah atas rezeki yang kita dapat, terutama hasil panen, tidak harus dengan ritual, bisa berbagai cara. 

Ritual Wiwitan adalah budaya warisan nenek moyang yang setidaknya mengandung 4 unsur nilai, yaitu nilai historis atau sejarah, nilai religi, nilai sosial, dan nilai budaya. Disamping mengajarkan budi pekerti dan nilai-nilai kearifan lokal yang sangat luar biasa arti dan makna nya jika kita mendalaminya. Tidak ada salahnya jika kita tetap melestarikannya.

Salam budaya nusantara, Rahayu.

admin

Belajar Peduli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Jum’at Silaturahmi, Belajar Peduli Part. 55

Jum Mei 13 , 2022
“Berbagi dengan orang lain adalah bentuk terbaik mensyukuri apa yang telah kita dapatkan.” Pada hari Jum’at, 13/05/2022 Sobat Bangilan kembali mengadakan kegiatan “Jum’at Silaturahmi, Belajar Peduli” yang ke 55. Kali ini Sobat Bangilan bersilaturami ke Tiga keluarga di dusun Dopyak, desa Bangilan Kecamatan Bangilan, mereka adalah Mbah Kot, Mbah Kusnah […]