DIAM DIRUMAH

Diam dirumah, duluuu rasanya kita sungguh merindukkan kondisi itu. Karena jenuh dengan rutinitas. Habis sholat subuh kita tidak tidur lagi karena bergegas siapkan sarapan, yang kadang hanya sempat bikin teh dan panggang roti, buru2 goreng nasi kalau ada sisa nasi semalam. Sarapan pake nasi panas, ikan bakar dan dabu-dabu iris, rasanya jadi sarapan yang mewah karena tidak pernah cukup waktu untuk mengiris tomat, bawang sembari menanak nasi tapi harus bersihin ikan dan membakarnya sekaligus.

Makan sambil ketawa ketiwi di meja makan sembari mendengar cerita lucu pengalaman anak-anak juga nyaris hanya angan-angan. Makan siang kita lebih sering dengan teman kantor, atau berbaur dengan orang yang kita tidak kenal di warung cepat saji. Tanpa basa basi karena harus balik ke kantor atau bahkan gak enak lama-lama karena ada pelanggan lain yang ngantri dibelakang kita.

Saat pulang kerumah sore hari, kita sudah terlalu letih. Sehingga mandi dan bersihkan badan, sholat isha tanpa makan malam karena sudah terlalu letih untuk ngotor-ngotorin piring kita lebih memilih tidur. Seperti itu rutinitas keseharian kita. Rumah kita minta tolong saudara yang urus dan bersihkan, pakaian kita bawa ke loundri karena terima bersih, rapi dan wangi tinggal pakai. Sabtu dan minggu kita gunakan untuk istirahat sepanjang pagi hingga malam. Sesekali kita pake bertemu kawan-kawan lama. Ada hari kita pake untuk menghadiri hajatan tetangga atau keluarga dimana kemudian kita bisa saling bertemu melepas kangen dengan sepupu dan handai taulan.

Tapi kemudian covid19 memutus semua rutinitas kita tiba-tiba.
Kita diminta diam dirumah saja, jika penting dan mau keluar harus pake masker. Jika diluar dan menyentuh segala sesuatu harus cuci tangan. Bahkan bos menganjurkan agar bekerja dari rumah saja, dan mengatur jadwal piket staf. Kordinasi via daring menjadi intens dengan teman kantor, bahkan teman se indonesia.
Saat ini berkerumun dilarang, bahkan saya juga akhirnya menyuruh pulang staf yang tidak ada jadwal tapi tetap hadir dikantor karena suntuk di rumah.

Covid 19 mengubah 180 derajat rutinitas kita. Berdiri dekat dipermasalahkan, bersalaman tidak dibolehkan, berkerumun apa lagi. Bahkan datang ke kantorpun dilarang.

Bahkan seorang sahabat dokter bilang, “Saat ini masa perang, kamu tidak diminta untuk pegang bedil dan senjata, untuk jadi pahlawan kamu cukup tinggal dirumah, jangan kemana-mana, makan yang bergizi, berjemur, tidur yang cukup dan teruslah bahagia. Karena perang ini hanya bisa kita menangkan kalau semua orang diam di rumah dan bahagia”

So…. ayo diam dirumah saja, kalau mau virus ini cepat enyah dan dunia kita kembali bingar. Ayo diam dirumah saja jika ingin dunia kita kembali ramai.

Bangilan, jalanan tidak lenggang, toko, minimarket dan pasar masih tetap rame dan masih saja sulit cari tempat parkir, ternyata masih banyak juga yang belum sadar.

Apa menunggu hingga ada orang kesayangan kita sakit lebih dulu, tidak dimandikan, tidak dihadiri saat dia dibungkus terakhir kali, tidak ikut menyolatkan selain sholat gaib?, melihat dari kejauhan saat dia dimakamkan? Kamu… kamu dan kamu tega seperti itu?😥😥 ayo dengar himbauan pemerintah untuk diam di rumah saja… (Anna Sovi)

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Beratan, Tradisi Kupatan Nisfu Sya'ban di Bangilan

Sel Apr 7 , 2020
Bulan suci Ramadan senantiasa bermakna relijius-spiritual bagi Orang Jawa. Tak sebatas sebagai ibadah keagamaan, tapi lebih jauh bulan penuh rahmat tersebut menjadi sarana untuk mengingat leluhur dan menyucikan diri. meskipun jaman sudah berubah, tehnologi semakin maju, tetapi kami, orang Jawa masih kental dengan berbagai tradisi . Di Bangilan tradisi nisfu […]