Belajar Memaknai Hidup Bersama Sobat Bangilan

Mbah Sarminah, Saat bersama kami

Dua kali ikut nimbrung dalam kegiatan berbagi dengan teman-teman komunitas SOBAT BANGILAN, ternyata membawa pengaruh besar dalam kehidupan saya. Kegiatan berbagi untuk para lansia dan kaum dhuafa itu seperti membawa energi positif yang sangat besar pada diri saya. Tangis haru dan senyum bahagia para penerima bantuan, canda tawa dan ketulusan teman-teman SOBAT BANGILAN, menyadarkan saya akan tujuan hidup yang semestinya.

Tujuan hidup yang memang harus benar-benar diupayakan dengan kesungguhan dan istiqomah. Dimana tak ada lagi tujuan yang berorientasi materi dan kesenangan pribadi. Namun lebih pada memberi kemanfaatan bagi sesama dalam upaya memantaskan diri menjadi golongan sebaik-baiknya manusia.

Melatih Diri Sendiri

Berangkat dari kesadaran itu, kemarin sore tepatnya pada hari sabtu 24 April 2021, saya mencoba melatih diri saya untuk terbiasa peduli dengan sesama. Saya berkunjung ke salah satu rumah lansia yang berada di desa tempat tinggal saya. Ke rumah Mbah Sarminah. Beliau seorang lansia yang sehari-hari tinggal sendirian. Ketika saya datang, mengetuk pintu dan mengucapkan salam, beliau langsung menyuruh saya masuk ke dalam rumah.

Rumahnya gelap. Lampu belum dinyalakan. Saya panggil sekali lagi, dan ternyata beliau sedang berada di dapur. Jangan bayangkan kalau dapurnya dapur modern ya.. karena disitu tak ada kompor gas, tak ada kitchen cabinet, tak ada magiccom, magicjar, atau peralatan-peralatan modern lainya. Hanya ada tungku dari tanah yang biasa kita sebut pawon, dan rak kayu untuk menaruh perkakas dapur.

Yang bikin saya takjub, meskipun sangat sederhana dan hanya berlantai tanah, dapur Mbah Karsimah terlihat bersih sekali. Semua tertata rapi. Sama sekali tak ada kesan kumuh dan semrawut. Beda dengan dapur rumah saya, meskipun bergaya modern tapi berantakan gak karuan. Aduh, malu saya. Masa kalah sama si Mbah.

Mbah Sarminah Rajin Puasa

Dengan badan yang bungkuk, Mbah Karsimah berjalan menghampiri saya. Lalu saya salami tangan beliau. Saya tanya “nembe masak gih mbah?”  (“lagi masak ya mbah?”). Beliaupun menjawab pertanyaan saya. Dengan senyuman hangat yang tergurat di wajahnya yang keriput, beliau mengatakan kalau memang sedang memasak untuk nanti berbuka puasa. Hati saya langsung tergetar. Dalam hati saya bergumam “serenta ini masih menjalankan ibadah puasa dan mempersiapkan segala sesuatunya sendiri. Hebat”. Saya yang masih muda harusnya juga meniru si Mbah. Mentang-mentang puasa kerjanya klimprak-klimpruk. Apa-apa minta dilayani. Males aja bawaanya. Haduh…

Beliau kemudian mempersilahkan saya duduk. Saya pun kemudian duduk di dipan sederhana yang hanya beralaskan karung-karung bekas yang berada tak jauh dari tempat kami berdiri. Mungkin itu tempat beliau beristirahat setelah lelah beraktifitas.

Setelah beberapa saat basa basi, saya lalu mengutarakan maksud kedatangan saya ke rumah beliau, yaitu untuk memberikan bingkisan lebaran untuk beliau. Memang tak seberapa, tapi saya berharap itu bisa bermanfaat bagi beliau. Mbah Sarminah terlihat senang sekali. “kok repot repot toh nak”  katanya lirih. Saya juga sangat bahagia melihatnya.

Usia Senja Tetap Mandiri

Kamipun lanjut berbincang-bincang. Saya sempat menanyakan usia beliau. Alih-alih menjawab pertanyaan saya, beliau malah bercerita tentang kehidupanya. Katanya dari kecil beliau sudah mandiri. Sering membantu pekerjaan Ibunya, dan kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Beliau tak mau merepotkan orang lain. Selama masih bisa dikerjakan sendiri, maka beliau tak akan meminta bantuan orang lain. Di usianya yang sekarang saja beliau masih melakukan pekerjaan rumah sendiri. Memasak, menyapu, mencuci pakaian, mencuci piring, membersihkan genuk, mencabuti rumput di pekarangan rumah, beliau masih melakukanya sendiri. Meskipun sebenarnya ada seorang cucunya yaitu anak dari mendiang anaknya, yang tinggal di samping rumah beliau. Tapi si mbah tak pernah mau merepotkan.

Belajar Dari Mbah Sarminah

Kini saya mengerti, ternyata masih ada orang-orang yang memiliki beban hidup yang lebih berat. Tak seharusnya saya selalu mengeluh akan setiap permasalahan yang ada. Seperti mbah Sarminah, sudah seharusnya saya selau bersyukur dan ikhlas atas apa yang saya dapat di dunia ini. Dunia adalah tempatnya berpuasa. Berpuasa menahan segala keinginan-keinginan yang berlebih, berpuasa mengendalikan ego, dan berpuasa menahan hasrat kerakusan.

Karena sudah mendekati waktu berbuka, sayapun berpamitan untuk pulang. Sebelum pulang, Saya memandangi stiker SOBAT BANGILAN yang tertempel di kardus bingkisan. Saya merasa lega. Ada sebuah perasaan bahagia di hati saya. Ternyata ini yang namanya indahnya berbagi. Terimakasih teman-teman SOBAT BANGILAN, ini semua berkat kalian. (Candra Setiawan)

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Jum’at Silaturahmi, Belajar Peduli di Banaran, Desa Sidotentrem

Jum Apr 30 , 2021
Jum’at, 30 April 2021 Kembali komunitas Sobat Bangilan mengadakan kegiatan rutin, Jum’at Silaturahmi, Belajar Peduli. Kali ini kegiatan ini dilakukan di dusun Banaran, desa SIdotentrem Kecamatan Bangilan Kabupaten Tuban, dirumah seorang nenek sepuh yang sakit dan jauh dari anak – anaknya. Beliau adalah mbah Karti. Wajah beliau berdua berseri – […]