Membelajarkan Hati Menyambut Ramadhon

2
Spanduk Terpasang di Pasar Bangilan

Adam terusir dari syurga, tapi dia tak pernah menyalahkan taqdirnya, tidak juga menyalahkan iblis yang menghasutnya. Justru Dia berkata, ” Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin“ artinya, ” Ya Allah, kami telah menzolimi diri kami sendiri, jika tidak Kau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami menjadi orang yang merugi”.

Yunus tercebur dalam tiga kegelapan, tapi ia tak menyalahkan mereka yang melemparnya kedalam laut, tidak pula mengutuk ikan paus yang menelannya tapi justru Dia berkata ” La illaha illa anta subhanaka inni kuntum minadh dzolimin” artinya, ” Tiada Tuhan kecuali Engkau, sesungguhnya kami tergolong orang-orang yang dholim”

Setiap kisah selalu ada i’tibar yang bisa dipetik, bahwa Allah mempunyai rencana terbaik bagi hambaNya. Mungkin sesuatu yang paling tidak kita sukai, bisa jadi sesuatu yang mengecewakan dan amat sangat menyakitkan, tapi jangan buru-buru protes, toh sebagian besar obat rasanya pahit, tapi kita mampu menelan meskipun terasa tidak enak di lidah, karena kita percaya bahwa setelah kita menelan semua kepahitannya kita pasti akan sembuh.

Begitu juga dengan ujian dan cobaan. Namanya ujian tidak selalu mulus dan menyenangkan, tapi harus kita pahami bahwa setelahnya kita akan naik kelas. Kita juga harus menyadari bahwa dunia tempatnya ujian, baik untuk segenap hal yang kita sukai bahkanpun untuk semua hal yang tidak kita sukai.

Meskipun kecenderungan kita sebagai manusia selalu memilah bahwa semua hal yang tidak kita sukai seperti sakit, kecewa, patah hati, susah, miskin dan berbagai musibah itu adalah ujian atau cobaan. Sementara kesenangan, kebahagiaan, kecukupan, kekayaan, rezki yang melimpah itu adalah anugerah.

Sehingga kitapun sering protes jika kemudian kita mendapat musibah yang kita golongkan ujian dan segera muncul rasa iri hati bilamana kemudian orang-orang disekeliling kita beruntun mendapat anugerah. Kita lupa bahwa yang kita sebut anugerah itupun sesungguhnya ujian bagi mereka yang mendapatkannya.

Jika Nabi Adam dan Nabi Yunus diuji dan mereka sangat lapang menerima ujian karena tentunya mereka paham bahwa, ada rencana Allah yang indah dibalik ujian tersebut, mereka yakin bahwa jika mereka menerima ujian tersebut dengan ikhlas maka itu juga akan menggugurkan sebagian dosa mereka dan yang paling penting mereka sadar betul bahwa apa yang mereka dapat adalah buah dari apa yang mereka kerjakan sehingga mereka mengakui kesalahannya dan tidak mencari kambing hitam untuk disalahkan.

Pasti sebagian kita bilang, ya iyalah mereka kan Nabi, sedangkan kita manusia biasa. Mereka juga manusia yang memang terpilih untuk menjadi teladan dan contoh bagi manusia lain. Semestinya kita juga harus introspeksi diri, kenapa kita diuji dengan sesuatu yang tidak kita sukai, Allah tidak pernah menganiaya hambaNya dan tidak pula menguji dengan sesuatu yang melampaui batas kemanpuannya.

Bahwa dunia yang kita tempati ini hanya persinggahan sementara, tempatnya ujian dan karenanya tidak ada yang mesti kita sungguh-sungguhi kecuali ibadah. Selebihnya hanya kenikmatan sesaat dan menipu. Tidak perlu mabuk dan angkuh ketika di beri kenikmatan, tidak mesti juga menangis dan meratap tatkala dihadapkan pada kesulitan karena semua hanya sementara, cara Allah menyentil kuping kita agar ingat apa sesungguhnya tujuan kita dihadirkan di dunia.

Oleh karenanya jika ada yang mati-matian mengejar kenikmatan, dan meminggirkan ibadah atau mendapat kebahagiaan hingga lupa bersyukur, maka jangan kaget jika Allah swt mengancam akan menarik semua kenikmatan dan memberinya balasan yang pedih. Atau sebaliknya jika ada yang mati-matian protes dan membangkang saat dihadapkan pada musibah maka Allah akan semakin menambah kepedihannya dan melipat gandakkan kesulitan dan kegelapan dalam hatinya.

Intinya, sadarilah bahwa hidup ini hanya sesaat, dan berbatas. Kita tidak akan hidup selamnya, hanya persinggahan. Ada saatnya kita diberi kenikmatan, dan itu artinya kita harus berterima kasih dan bersyukur kepada Allah, kita jadikan kenikmatan itu jalan untuk lebih mendekat kepadaNya. Kita jadikan kebahagiaan dan kenikmatan untuk semakin dekat dan mesra denganNya.

Sebaliknya jika kita di beri ujian maka tersenyumlah meski pedih, tidak perlu mecari kambing hitam atas kesulitan yang kita alami, buang prasangka bahwa kesulitan yang kita dapat karena si A, si B atau si C, yakinlah tidak ada seorangpun yang bisa menyakiti dan memberi kesengsaraan kepadamu jika Allah tidak berkenan. Kalaupun dipicu oleh seseorang maafkan dia, karena sesungguhnya Allah hanya meminjam tangannya untuk mengujimu, Allah mengirimkan dia untuk mencoba sejauh mana kepercayaan, keyakinanmu dan kecintaanmu kepadaNya, hingga kau melepas semua pegangan dan pengharapanmu kepada manusia. Karena mereka tidak akan memberimu faedah dan mamfaat sedikitpun jika Allah tidak mengizinkan.

Allah swt punya banyak cara untuk menguji manusia, sebagaimana Dia juga punya jutaan cara mengantarkan kenikmatan dan anugerah untukmu dari tempat yg tidak pernah kau sangka.

Allah juga punya berbagai cara mendekatkan kita padaNya dan sebaliknya punya berbagai cara menjauhkan kita dariNya. Diberikannya kita kesibukan yang tiada habisnya, diisinya dada kita dengan keinginan dunia yang tiada batasnya hingga tidak sempat kita mengingatNya, menyebut namaNya, meminta bantuanNya, karena kita terus sibuk dengan berbagai urusan dunia, kita haus dengan harta, jabatan dan tahta, mengandalkan kemampuan diri, koneksi dan jaringan kita lupa bahwa mereka tidak mampu menolong kita tanpa izin Allah. Itu yang namanya istiraj, Allah menunda azabNya dengan membuat kita sibuk dan melupakannya, memberi semua yang kita butuhkan hingga kita lalai, kita terlena menyangka kita sedemikian hebat. Tapi jika Allah swt ingin mendekatkan kita pada padaNya, ingin mengelus kepala dan mendekap kita, maka diberinya kesulitan demi kesulitan yang tiada henti… hingga kita maraung , merintih memanggil namanya. Semua waktu kita untuk berkeluh kesah padanya. Menyebut namaNya tiada henti hingga Dia berkenan mengangkat semua duka dan luka kita.

Pemasangan Spanduk di Pasar Bangilan

Besok kita sudah melaksanakan puasa ramadhan, masihkah kita mengeraskan hati untuk tidak mendekat padaNya? Apalagi ditengah Pandemi seperti sekarang. Tak ada alasan untuk kita menjauh dan melupakanNya, karena hanya Allah swt yang bisa menghindarkan kita dari segala keburukan. Hanya Dia, tak ada yang lain. Harta, jabatan dan statusmu tak akan memberi mamfaat sedikitpun bagimu, tengoklah bagaimana corona tak bermata dan menyerang orang kaya dan miskin, anggota kerajaan atau mereka yang tinggal di gubuk reot. Tak ada bedanya protap pemulasaran VVIP dengan rakyat jelata semuanya sama, semua dibungkus dan disemprot disinfektan, dibungkus plastik tanpa mandi, tak diantar keluarga selain petugas pengangkat jenazah dan penggali kubur. Hanya Allah swt yang setia, tidak meninggalkanmu seincipun. Jangankan sahabat, bahkan suami/istri dan anak tak bisa mendekat.

So….. mari kita melatih hati, membersihkannya dari sangka-sangka sekecil apapun. Karena yang paling merusakkan dan menggerogoti hati adalah sangka-sangka.

Ramadhan telah tiba, nanti malam kita sudah sahur, dan sebaik-baik manusia adalah mereka yang memasuki ramadhan dengan gembira tanpa beban hati. Beban hati adalah kemarahan, kebencian, iri, dan dendam. Kosongkan semuanya agar ramadhan mampu memasuki hati kita dengan dengan kejernihan dan kesucian. Sebulan kita akan ditempah, agar rahmat dan ampunan kita dapatkan, dan ramadhon tidak berlalu sia-sia.

Kiranya kita termasuk golongan yang mendapat rahmat dan ampunan di bulan ramadhon ini. Semoga Puasa kita tahun ini lebih baik dari pada tahun kemarin… (Ansov)

Mari Berbagi dan Bersinergi dalam Sebuah Ketaqwaan…

admin

2 thoughts on “Membelajarkan Hati Menyambut Ramadhon

  1. Iyesss buat bpk ketua @ kangmaskin # selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan,semoga amal ibadah nya bertambah dan berkah,aamiin YRA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Serunya Lomba Menggambar Tingkat SD di Grup FB Sobat Bangilan - Tuban

Kam Mei 7 , 2020
Lomba Menggambar tingkat SD yang digelar oleh SOBAT BANGILAN di grup FB Sobat Bangilan disambut antusiasme yang tinggi dari masyarakat Bangilan. Lomba yang bertema “Serunya Ramadhan dirumah saja” ini digelar mulai tanggal 1 sampai 5 Mei 2020. Lomba ini juga sekaligus mendukung program pemerintah untuk belajar di rumah dan dirumah […]